Rabu, 08 Juni 2011

Mengenai Kampung Inggris

KAMPUNG INGGRIS di Pare. kenapa Pare disebut kampung Inggris??
Jawabannya adalah karena di sana banyak sekali tempat les bahasa Inggris. Hampir semua rumah penduduk di sana, tepatnya di TULUNGREJO, dijadikan les bahasa Inggris. Banyak orang, baik tua maupun muda yang ke sana untuk belajar bahasa Inggris.
Tak semua penduduk Kampung Inggris adalah penduduk asli, karena banyak juga pendatang yang sengaja “mondok” di sana demi belajar bahasa Inggris. Di dua desa itu, terdapat 100 tempat kursus bahasa Inggris. Mulai dari yang besar sampai kecil. Para siswa datang dari berbagai pelosok Indonesia seperti Papua, NTT, bahkan Timor Leste. “Saya juga heran. Padahal, kalau untuk penduduk setempat, kursusnya gratis. Dari 100 siswa saya, cuma dua yang asli Pare,” kata Achmad Al-Faruqi (26), pemilik tempat kursus The Awareness.
Kata Faruqi, sudah lama Kampung Inggris jadi rujukan banyak orang untuk mendalami bahasa Inggris. Menurut pria asal Riau ini, siswa yang datang mulai dari jebolan SMU hingga lulusan pascasarjana yang ingin meraih gelar doktor. ”Ada juga yang ingin memperlancar percakapan sebagai bekal kerja di luar negeri.”
Di tempat kursusnya, lanjut Faruqi, selain diajari tata bahasa, struktur, “Yang penting adalah percakapan. Banyak yang pintar bahasa asing tapi kurang dalam soal percakapan. Makanya, kebanyakan yang datang ke sini ingin bisa berkomunikasi lancar,” kata pemuda jebolan Pondok Pesantren Gontor ini.
Tak heran jika sehari-hari, siswa diharuskan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Bahkan, jika sudah memasuki kursus bulan kedua siswa yang tidak menggunakan bahasa Inggris, “Kami minta keluar sebab nanti akan merusak sistem,” ujar Abdul Rohim (27), pengajar The Awareness. Soal gagap atau belepotan, “Tak masalah. Toh, para pengajar akan menuntun mereka.”
Murah & Cepat Bisa
Alasan lain orang berbondong-bondong menuntut ilmu bahasa Inggris ke Pare, karena biaya yang amat murah. Untuk jadwal belajar sehari tiga hingga lima kali, biayanya hanya Rp 60 ribu sampai Rp 100 Ribu. ”Kalau di tempat lain, pasti jutaan rupiah,” kata Faruqi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar